Jumat, 08 April 2011

Fenomena Gehu Pedas

     Menyingkap tabir kesuksesan dari semacam gorengan yang popularitasnya melebihi dari gorengan-gorengan lain. Gehu pedas memang sudah menjadi primadona diantara gorengan kompetitornya karena rasanya yang pedas menggugah dan ukurannya yang memuaskan. Sehingga tidak aneh lagi jika para penjual gorengan mengistimewakan gehu pedas ini dengan harga yang sedikit lebih mahal dibanding tempe goreng, pisang goreng, bala-bala, dan lain-lain. Bahkan kini sudah bermunculan pedagang yang khusus menjual gehu pedas dengan harga yang cukup tinggi, sampai empat kali lipat harga gorengan biasa per buahnya! Dengan segala kelebihan ini penjualan gehu pedas pun melonjak sementara gorengan lain semakin tersingkir dari hati para konsumen.
     Fenomena gehu pedas ini tak jauh berbeda dengan pola kehidupan masyarakat Indonesia yang konsumtif pada umumnya dan aspek kehidupan lainnya yang terkesan ikut-ikutan. Konsumerisme yang berorientasi pada barang baru yang notabene mengikuti perkembangan zaman tampak begitu kental di sekitar kita. Apalagi dengan disetujuinya AFTA dan AC-AFTA yang menambah deretan barang baru impor dari berbagai negara memperkuat posisi Indonesia sebagai negara pasar paling menjanjikan di dunia perdagangan internasional. Mudah saja untuk membuktikan hal ini. Mari kita lihat barang-barang yang kita miliki. Mulai dari alat telekomunikasi, komputer, hingga transportasi semuanya adalah barang yang teraktual saat ini. Padahal telepon genggam yang lama masih banyak bermanfaat, komputer yang lama pun masih berfungsi, dan motor yang kita punya masih jauh dari kata tidak layak. Disinilah dibutuhkan suatu kebijaksanaan dimana kita bisa membedakan antara hal yang kita butuhkan dengan hal yang kita inginkan. Sehingga kita tidak terjebak dalam pola hidup yang hanya sekedar ikut-ikutan.

Kekuatan Indonesia

     Sebagai manusia Indonesia yang mengaku Indonesia, tentu akan terbesit dalam pikirannya untuk membalik keadaan yang sangat merugikan ini. Jika kita ingat sumber daya alam Indonesia yang sangat melimpah tentu kita akan optimis menghadapi masa depan dengan segudang mimpi dan harapan. Namun jika kita ingat kondisi sumber daya manusia Indonesia yang begitu dilematis maka mimpi dan harapan itu pun akan hangus dengan seketika. Bukan berarti manusia Indonesia itu penuh dengan kekurangan, hanya saja sebagian dari manusia Indonesia tidak menyadari kehebatan dirinya ketika menyadari identitas kebangsaannya. Dengan menyadari identitas kebangsaannya maka akan timbul kebanggaan. Dengan adanya kebanggaan maka akan timbul kepercayaan. Dengan adanya kepercayaan maka akan hadir sebuah peradaban yang amat sejahtera.
     Harus disadari bahwa di era globalisasi ini banyak negara yang berlomba untuk menyebarkan budayanya kepada warga dunia. Sayangnya kita seringkali memposisikan diri sebagaii penerima bukan penyebar. Kerendahan diri untuk berbicara bahasa Indonesia atau bahasa daerah dan rasa malu untuk mengakui Indonesia sebagai tanah kelahirannya adalah salah satu faktor dari kemerosotan ini. Seringkali masyarakat Indonesia mengagungkan karya dan produk orang lain. Buktinya sering pula kita bersaing dengan mereka dalam bidang yang mereka kuasai seperti industri dan ekonomi. Tentu kita tak akan pernah bisa unggul dari mereka sekalipun kita berusaha seribu kali lipat dari biasanya. Manusia Indonesia perlu menyadari bahwa keunggulan itu tidak hanya terpaku pada mengalahkan lawan dalam suatu bidang, tapi unggul pun dapat diartikan melakukan sesuatu yang tidak bisa orang lain lakukan sehingga orang lain pun akan datang meminta pertolongan kita karena keahlian khusus kita.
      Bangsa Indonesia tidak perlu mengalahkan teknologi Jerman untuk unggul, tidak perlu menyaingi kecerdasan  Jepang untuk unggul, dan tidak perlu menaklukan kekuasaan Amerika Serikat untuk unggul. Tapi cukup menjadi manusia Indonesia yang bermoral serta profesional dalam menjalankan perannya. Selalu berkata jujur pada orang orang sekaligus menghindari untuk menyakiti hati orang. Dan tentunya berbangga menjadi manusia Indonesia yang berkarakter dan berkebudayaan ketimuran dan konsisten mempertahankan adat istiadat daerah kelahirannya serta ras keturunannya. 

Bias Universitas

    Sarjana adalah satu elemen masyarakat yang secara langsung menjadi motor penggerak bangsa. Oleh karena itu kualitas para sarjana akan langsung berdampak pada kondisi negara ini dan kualitas universitas akan langsung berdampak pada kondisi para sarjana. Akhir-akhir ini banyak universitas yang terkesan menjadi inkonsisten dari nama yang disandangnya. Mungkin karena tuntutan hidup universitas yang semakin tinggi membuat universitas harus mengkhianati namanya sendiri. Akibatnya banyak PTN yang kehilangan jatidirinya dan memiliki kemampuan yang sama pada umumnya PT. Keserakahan akan materi pun tidak luput dari aroma kerakusan ini yang menjadikan pelacuran sarjana dan universitas. Apapun yang diminati masyarakat maka akan dijual termasuk idealisme! Inilah saatnya membenahi diri untuk kembali pada jalan yang benar sebelum pendidikan tinggi Indonesia kehilangan arahnya sebagai lembaga pendidikan dan merubah orientasinya menjadi industri pendidikan yang berorientasi pada profit.
    Sebelum semua universitas dan institut Indonesia dirapikan nampaknya akan sulit sekali untuk merubah keadaan saat ini. Karena perguruan tinggi yang bias hanya akan menghasilkan sarjana yang bias pula. Dimana sarjana pendidikan akan menjadi wirausaha, sarjana teknik akan mengajar, sarjana pertanian akan menjadi pegawai bank, dan yang lebih parah lagi sarjana agama akan manjadi hilang karena nampaknya inilah bidang yang tidak diminati oleh mayoritas mahasiswa saat ini.    

Garuda di Dadaku

    Seyogyanya lagu “Garuda di Dadaku” ini tidak hanya sekedar nyanyian di kala timnas bermain di ajang internasional. Tapi juga sebagai acuan kita untuk menata kehidupan yang mandiri, tangguh, dan penuh dengan kemesraan antara lapisan masyarakat hingga pemerintah. Menjadi diri sendiri adalah kunci utama untuk keluar dari segala masalah ‘ikut-ikutan’ ini. Karena sebuah sekrup dalam sebuah rangkaian mesin pun akan sangat berguna dan dicari karena tak ada benda lain yang dapat menggantikan sekrup tersebut. Untuk saat ini, marilah kita awali dengan konsep “Kecil namun kuat” yang menunjukkan bahwa Indonesia ini tidak seberapa namun dibutuhkan banyak orang. Seiring berjalannya waktu dengan terus mempertahankan idealisme maka tidak mustahil jika kita akan menjadi negara adidaya yang sejajar dengan negara-negara maju.
     Keberanian untuk bermimpi pun akan hadir jika kita tahu dimana kelemahan dan kelebihan kita. Kini kita sudah tahu bahwa masyarakat Indonesia memiliki kekurangan dalam hal moral dan identitas, maka seyogyanya hentikanlah menyalahkan orang lain karena masalah moral ini hanya bisa diselesaikan oleh tiap individu yang memang berniat untuk menyelesaikannya. Dengan introspeksi ini, diharapkan manusia Indonesia dapat menumbuhkan kepercayaandirinya dan terlepas dari ketergantungan bangsa lain. Akhirnya, manusia Indonesia tidak hanya menjadi konsumen setia gehu pedas, melainkan menjadi penjual baru yang menjual tempe rasa rempah, kroket pedas manis, ubi lapis oncom, dan berbagai kreasi baru lainnya yang dicari seluruh warga dunia. 

Senin, 24 Januari 2011

Urgensi Pendidikan Mitigasi Bencana

      Bencana yang hadir silih berganti di berbagai tempat di Indonesia sepertinya sudah membuat kita cukup kerepotan. Letusan Gunung Merapi, abu vulkanik Gunung Bromo, hingga banjir di Sumatera Utara adalah bukti bahwa negara kita adalah salah satu negara yang memiliki potensi bencana yang cukup besar. Namun yang menjadi pertanyaan adalah,”Apakah kita akan bertahan dengan segala cobaan ini?” 



      Sebenarnya banyak sekali fenomena di permukaan bumi ini yang dapat dikategorikan bencana alam. Hanya saja karena tidak semua tempat di Indonesia ini memiliki kerapatan penduduk yang sama sehingga ada beberapa fenomena yang termasuk dalam kategori bencana. Karena bencana alam adalah suatu fenomena alam yang dapat mengakibatkan kerugian terhadap manusia, baik dari segi fisik, jiwa, maupun materi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa bencana alam itu tergantung dari seberapa besar korban manusianya, bukan seberapa besar fenomena itu terjadi.

      Indonesia adalah negara yang dilalui oleh jalur subduksi yaitu jalur pertemuan antara lempeng Eurasia dan Indoaustralia yang menjadikan negara kita banyak terdapat gunungapi yang memanjang dari pantai sebelah barat Sumatera ke bagian selatan Jawa lalu naik ke bagian perairan timur di Kepulauan Maluku. Tentunya dengan banyaknya gunungapi api tersebut membuat daerah-daerah yang dilalui jalur subduksi menjadi rentan terhadap bencana geologi seperti gempa, tsunami, dan letusan gunungapi.


      Belum lagi dengan kondisi iklim yang semakin lama semakin tak baik membuat kita harus berurusan dengan banjir, gagal panen, dan banyak lagi yang fenomena atmosfer yang membatasi produktivitas manusia. Memang untuk bencana yang satu ini adalah sebuah pengecualian, karena bencana seperti ini tidak akan ada tanpa campur tangan manusia. Namun bukanlah sesuatu yang tepat jika kita terus menyesali dan memikirkan bagaimana agar bumi ini bisa kembali seperti semula. Satu-satunya cara adalah beradaptasi agar kita dapat terus bertahan hidup.
     
    Salah satu bentuk adaptasi itu adalah  melakukan mitigasi bencana. Mitigasi berasal dari bahasa dari bahasa Inggris ‘mitigate’ yang artinya meringankan. Usaha untuk meringankan resiko dari suatu bencana yang terjadi disebut mitigasi bencana. Sehingga mitigasi bukanlah usaha untuk mencegah bencana, karena bencana tidak sepenuhnya dapat dicegah. Oleh karena itu, sangat penting sekali untuk mengajarkan dan mendidik masyarakat khususnya siswa sekolah agar dapat beradaptasi dengan ilmu mitigasi bencana ini.
     Seperti yang terlihat, sudah beberapa sekolah sudah menerapkan pembelajaran seperti ini, seperti tanggap bencana gempa agar dapat menghindari bahaya dari gempa bumi. Namun sepertinya ini tidaklah cukup bagi mereka karena mereka belum sepenuhnya dapat merasakan ketakutan saat bencana pada latihan mereka di sekolah. Tentunya kondisi psikologis siswa saat latihan sangat berbeda dengan keadaan psikologis saat bencana berlangsung. Sehingga bukan hanya tindakan yang bersifat preventif yang harus dilakukan tetapi juga saat sudah terjadi bencana. Karena kerugian terbesar dari bencana adalah trauma yang menyerang psikologis korban. Akibatnya, tidak jarang dari korban yang memilih untuk terus tinggal di pengungsian dan menunggu bantuan daripada harus bangkit dan kembali ke tempat tinggal mereka.
Kurikulum 
     Perlu dirancang sebuah kurikulum khusus untuk mendidik para siswa untuk pendidikan mitigasi bencana ini. Agar mental seorang pejuang daerah bencana dapat terpatri di dalam diri mereka. Mental yang kuat dan sanggup bertahan baik saat tertimpa bencana atau pun tidak. Jangan sampai setiap bencana terjadi para pengungsi hanya dapat mengeluh dan menanti akan bantuan sekardus mi instan yang tak kunjung datang. Belim lagi dengan keadaan pengungsian yang serba kekurangan. Para pengungsi harus bisa bangkit dan memanfaatkan apa yang tersedia di alam. Sehingga mereka dapat menopang dirinya sendiri dan tidak hanya bergantung pada pemerintah.
     Pendidikan mitigasi bencana seyogyanya dapat menjadi bahan pertimbangan bagi Kementrian Pendidikan Republik Indonesia mengingat negara kita adalah negara yang rawan sekali terkena bencana. Satu hal lagi, tanamkan pada diri kita bahwa sesungguhnya bencana itu tidak hanya membawa keburukan. Tapi bencana adalah suatu karunia yang didahului oleh petaka sebagai bukti bahwa Tuhan terus menjaga keseimbangan alam dan menyayangi makhluk-makhluk-Nya. 


Selasa, 28 Desember 2010

Membela dan Menentang Islam

       Sudah menjadi hal biasa dimana Islam hangat untuk diperbincangkan dalam berbagai situasi. Tanpa mengenal waktu dan tempa orang-orang sepertinya sangat bersemangat sekali untuk mengorek semua keburukan umat Islam dan menaruh harapah yang banyak pada Islam. Tak terkecuali dengan isu internasional yang terkait dengan pertempuran di Palestina dan Libanon. Siapa yang tidak tahu mengenai pertempuran antara Israel yang didukung Amerika dengan Palestina yang kini sudah mulai terlihat kekalahannya karena tidak bisa bertahan. Sehingga tanpa disadari bahwa isu ini telah mempengaruhi sebagian warga Indonesia. Tentunya mereka yang mempunyai rasa solidaritas yang tinggi sangat menyesali sikap apatis pemerintah terhadap masalah ini. Bagaiman mungkin negara yang mayoritas warga negaranya beragama Islam hanya bisa menonton melihat saudaranya dibantai di negara lain?
Banyak pendapat yang mengatakan bahwa Islam kini tengah diserang, tengah diracuni keyakinannya, dan tengah disusupi sehingga dengan sendirinya akan hancur dari dalam. Dan semua tuduhan ternyata sudah dilayangkan jauh-jauh hari kepada Amerika sebagai negara yang membenci Islam. Kehadiran Presiden Obama ke Indonesia pun sempat ditolak oleh beberapa ormas dan organisasi mahasiswa. Tentu saja mereka mengatasnamakan pembelaan terhadap Islam. Namun apakah benar Islam tengah dijajah? Atau Indonesia yang dijajah? Siapakah yang hendak Amerika hancurkan? Islam? Atau Indonesia? Bagaimana jika Indonesia beragama mayoritas Hindu? Apakah Hindu yang akan dicap sebagai teroris?
Inilah yang harus kita selidiki sebagai warga negara yang sadar akan situasi dan kondisi negara ini. Kita beralih sejenak ke negara dimana Islam dilahirkan, Arab Saudi. Ternyata di sana kondisi Islam sangat sehat. Tanpa adanya tuduhan terorisme atau bahkan penyerangan negara lain. Padahal jika orang diluar Islam ingin menghancurkan Islam mereka tentunya harus mengahncurkan dulu pusatnya. Tapi kenyataanya mereka tidak menghancurkan Arab, tapi mengendalikannya. Maka wajar saja jika Arab hanya diam saja di saat Irak berselisih dengan Amerika. Diluar semua itu, Arab tetap aman dengan sumber minyaknya yang melimpah dan jemaah haji yang keluar masuk dari seluruh dunia. Selain itu, jika kita ingin mengatasnamakan Islam, ternyata di Arab sana orang-orang Islam telah menjadi pembunuh utama dan penyiksa ulung saudara-saudara kita yang menjadi TKI. Dan untuk ke sekian kalinya pemerintah hanya bisa memulangkan mereka dan memberikan perawatan setelah nyawa mereka sampai di leher.
Arab yang makmur dan TKI yang terus menerus disiksa tentu bukan indikator terjajahnya Islam di mata dunia. Sehingga wajib bagi kita, rakyat Indonesia, untuk mengambil kesimpulan yang lebih spesifik bahwa Indonesia tengah dijajah, bukan Islam. Tentunya ada beberapa alasan mengapa Indonesia yang menjadi sasaran empuk para negara maju. Pertama, secara potensi alam Indonesia memiliki sumber daya alam yang tidak dapat diragukan lagi. Kedua, rakyat Indonesia berasal dari berbagai suku, etnis, dan agama yang berbeda-beda dan itu merupakan nilai lebih bagi kita untuk dipecah-belah dan dihasut untuk salaing menyerang. Ketiga, kepribadian rakyat Indonesia yang cenderung konsumtif menjadikan negara ini pasar yang menjanjikan bagi industri luar negeri sehingga pada saat mereka inginkan mereka bisa menghentikan ekspor tersebut dan membuat Indonesia lemah selemah-lemahnya. Hal ini bisa dilihat bagaimana ketergantungan mata uang kebanggan kita, Rupiah, sangat tergantung dengan kestabilan nilai mata uang Dollar. padahal bukan tidak mungkin jika Indonesia ingin kuat seperti negara-negara Uni Eropa yang sudah mandiri dengan mata uang Euronya.
Dalam kajian Geografi Regional, Indonesia memiliki batas wilayah formal – batas yang didasarkan keadaan fisik yang terlihat – yang sangat luas. Sedangkan batas wilayah nodal – batas yang didasarkan atas pengaruh budaya, politik, ekonomi, dan lain-lain yang tidak dapat terlihat – yang sangat sempit. Sehingga dapat disimpulkan bahwa negara kita adalah sebuah negara yang luas, potensial, dan mandiri. Namun jika dilihat secara dekat ternyata negara adalah negara yang hancur, bobrok, dan lemah. Sehingga tidak salah jika salah satu sahabat Rasulullah saw, Ali bin Abi Thalib ra, mengatakan, “Alangkah buruknya orang yang rupawan namun bodoh. Ia ibarat sebuah rumah yang dihuni seorang penjahat.” Dan perkataan beliau sangat relevan sekali dengan keadaan kita saat ini. Indonesia adalah orang rupawan, sedangkan kita adalah kebodohannya.
Dalam hal penulis tidak bermaksud merendahkan Islam atau pun menjelek-jelekkan negara yang kita cintai ini. Namun penulis bermaksud untuk memberikan sedikit pengalaman untuk tidak mudah terhasut masalah yang bermotif agama. Selain itu, kita pun harus membedakan belajar dengan menolong. Kita tidak diwajibkan memiliki kemampuan dan pengalaman untuk belajar namun kita diwajibkan mampu dan berpengalaman dalam menolong agar pertolongan kita tidak sia-sia. Bangun dan kuatkanlah negeri kita dulu dan setelah itu kita bisa mengirim kedamaian untuk para saudara kita yang tengah bertempur di negeri yang jauh disana. Hidup ini bukanlah masalah benar atau salah, tapi bijaksanalah dalam menangani berbagai persoalan yang menimpa. Karena kebenaran itu adalah relatif bagi setiap manusia.
    

Sabtu, 27 November 2010

Proposal LKM 2010 Geografi

Yang diganti hanya halaman rundown ma anggaran...
selebihnya sama..nuhun :)
1. Cover

2. Isi

Senin, 15 November 2010

Mengkritisi KTT Iklim di Cancun

     Saat ini permasalahan iklim tidak lagi menjadi masalah sebuah negara maju maupun negara berkembang, tapi juga sudah menjadi permasalahan dunia yang perlu diwaspadai bersama. Hal ini tercermin dari rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) iklim yang sudah banyak dilakukan negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa  (PBB). Tidak terkecuali dengan KTT PBB tentang Perubahan Iklim ke 16 yang akan diselenggarakan di Kota Cancun, Meksiko. KTT yang akan digelar pada 29 November 2010 ini merupakan KTT yang dilakukan setelah KTT Kopenhagen pada Desember 2009 lalu yang ternyata tidak menghasilkan kesepakatan global untuk menanggulangi masalah iklim.


    
    Bila diperhatikan secara seksama, ternyata setelah melakukan 15 kali konferensi, negara-negara PBB belum dapat mengambil kesepakatan bersama dalam menangani perubahan iklim dunia. Mungkin hal ini disebabkan karena belum adanya toleransi di dalam KTT tersebut. Seperti yang diketahui bersama, bahwa inti dari permasalahan iklim ini adalah polusi. Maka penyelesaiannya adalah mengurangi polusi atau bahkan menekannya hingga batas nol. Namun pengurangan polusi berarti pengurangan aktivitas produksi industri atau penggantian mesin-mesin produksi lama dengan yang baru dan ramah lingkungan. Hal ini menyebabkan negara-negara yang bergerak pada sektor industri harus rela mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mengurangi jumlah polusi. Sehingga mereka yang merasa mewakili negara-negara industri akan berfikir panjang untuk menyetujui kesepakatan KTT dan merelakan pendapatan negaranya berkurang darastis.
     Merupakan hal yang sangat logis jika mereka masih mempertimbangkan untuk mengurangi jumlah pendapatannya. Namun perlu diperhatikan, justru bumi inilah yang menjadi satu-satunya sumber pendapatan manusia, bukan uang. Bagaimana pun canggihnya suatu teknologi atau mudahnya sistem perbankan tidak akan bisa melepaskan ketergantungan manusia dari alam. Sampai kapan pun manusia akan mencari makanan dari hasil pertanian maupun peternakan yang bersifat alami. Maka dari itu, tidaklah rugi jika manusia rela menukar segudang hartanya utnuk kepentingan bumi yang akan memberikannya kenyamanan hidup selama seribu tahun atau bahkan lebih.

Manusia vs Bumi
     Bumi yang bersifat dinamis ini memiliki kemampuan untuk terus menyeimbangkan dirinya sendiri. Jika keseimbangan yang sekarang sudah terganggu maka ia akan merubah keadaan dirinya untuk mendapatkan keseimbangan yang baru. Dan bisa jadi keseimbangannya yang baru itu memiliki karakteristik lingkungan ekstrim dimana manusia tidak dapat hidup didalamnya. Hakikatnya, ini bukanlah masalah tentang perubahan iklim, namun lebih tepatnya persaingan adaptasi antara manusia dan bumi. Siapa yang akan kalah terlebih dahulu maka dia yang akan musnah. Hanya saja perlu diingat bahwa bumi dapat terus ada tanpa manusia, sementara manusia tak akan pernah bisa hidup tanpa bumi.
     Lingkungan yang kini sudah menjadi bahan diskusi utama dalam setiap seminar maupun buku kelingkungan memang sudah memberikan teguran yang cukup keras kepada kita semua. Iklim dan cuaca yang sudah tidak menetu, banjir yang sudah menjadi kebiasaan saat hujan turun, dan bencana alam yang silih berganti menyapa kita merupakan serangkaian kecil teguran alam kepada manusia. Padahal, pangkal dari semua masalah ini hanyalah karena polusi yang sudah sangat melampaui  batas. Sikap acuh pemerintah dan sikap tidak mau diatur rakyat merupakan kombinasi jitu untuk merusak lingkungan ini secara efektif dan cepat. Entah sampai kapan proses ini terus berlanjut dan bukanlah hal yang mustahil jika keberadaan spesies homo sapiens akan hilang dari permukaan bumi karena keadaan iklim dan cuaca yang sudah tidak mendukung kehidupannya.
Begitu banyak kegiatan seminar, buku, diskusi terbuka, dan pemberitaan yang memperingatkan tentang perubahan iklim. Namun belum ada satu pun dari hal-hal tersebut yang mampu merubah keadaan. Sepertinya kita memang lebih suka untuk berbicara daripada mendengarkan. Sehingga orientasi kita hanyalah sebatas wacana dan mencela, bukan pada tindakan yang jelas lebih menjanjikan perubahan.

Ketegasan
     Ketegasan pemerintah merupakan hal yang  sangat dibutuhkan saat ini. Karena hanya pemerintah yang dapat memimpin dan menyatukan pikiran rakyatnya. Jika dilihat sekilas saja, sebenarnya banyak sekali ketegasan yang belum dilakukan pemerintah untuk meluruskan rakyatnya. Mulai dari hal yang besar seperti ketegasan pembuangan limbah industri sampai hal yang kecil seperti ketegasan penertiban kendaraan bermotor yang menyebabkan kemacetan setiap hari. Jangan sampai hal ini dibiarkan terus meradang dan akhirnya bencana yang berkepanjangan melanda rakyat Indonesia. Semoga Tuhan menjauhkan kita dari hal yang demikian.           

Minggu, 03 Oktober 2010

My first short story...

Transenden
Manusia dan segala dinamika kehidupannya senantiasa menyimpan rahasia dan kejutan yang menjadikan dunia ini terlihat sporadis. Manusia pun terus berjalan dan mencari hakikat dari tiap sesuatu, bahkan tidak jarang sebagian dari mereka berpikir, mengapa Tuhan membiarkan iblis hidup abadi sedangkan Dia menghendaki kebaikan? Banyak diantara mereka juga mencoba untuk bertindak seperti Tuhan, menentukan segala hal dengan pikiran mereka sendiri dan berbuat sesuka hati mereka yang menyebabkan banyak kerusakan di banyak tempat. Namun tak jarang juga sebagian diantara mereka ... read more

Supermassive Black Hole

      Mungkin istilah lubang hitam sudah tidak asing lagi bagi sebagian orang. Masyarakat pada umumnya menganggap bahwa lubang hitam adalah suatu objek lubang yang dapat menyerap segala macam objek yang melintas didekatnya. Sebenarnya anggapan tersebut tidak seratus persen salah, karena yang sebenarnya bahwa lubang hitam adalah suatu bintang mati yang dihasilkan dari evolusi bintang, jadi bukan berupa lubang. Di awal kehidupan sebuah bintang ia akan terus mengembang dan menyusut seiring habisnya ‘bahan bakar’ yang ia punya untuk bersinar. Pada akhirnya ‘bahan bakar’ tersebut akan habis dan mengakibatkan ledakan besar yang disebut supernova. Hasil dari ledakan tersebut akan meninggalkan sebuah bintang mati yang disebut lubang hitam.

     Adapun yang dimaksud supermassive black hole (lubang hitam yang luar biasa padatnya)  adalah sebuah lubang hitam terbesar yang pernah ada  di alam semesta ini. Hingga kini para astronom pun beranggapan bahwa sebenarnya seluruh galaksi di alam semesta ini bergerak mengelilingi ‘si bintang padat’ ini. Karena gravitasi yang ditimblkannya diperkirakan dapat menjangkau hingga seluruh penjuru alam semesta.
Gambar di atas mennjukkan salah satu contoh dari lubang hitam. Bisa diperhatikan bahwa cahaya disekitarnya terlihat bias membentuk suatu lapisan pelindung yang disebut horizon. Gaya gravitasi yang besar disebabklan oleh densitas atau massa jenisnya yang begitu rapat. Sehingga setiap objek yang mendekatinya akan tersedot dan tidak akan bisa keluar lagi termasuk cahaya. Hal ini dibuktikan dari warnanya yang senantiasa hitam kelam dan tidak menunjukkan satu pun tanda adanya pantulan.
     Kajian lubang hitam akan dibahas secara sekilas dalam disiplin ilmu kosmografi dan mendalam dalam astronomi. Untuk lebih mendalaminya, Anda bisa mengunjungi situs http://hubblesite.org/explore_astronomy/black_holes/modules.html.

Senin, 30 Agustus 2010

Nuzulul Quran, Refleksi Akhlak Rasulullah

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah : 185)

      Tidak terasa kini umat Islam telah memasuki telah memasuki hari ke-17 bulan Ramadhan. Hari yang diyakini sebagai waktu turunnya Alquran yang sekarang sangat mudah untuk didapatkan lalu dibaca oleh para penganut agama Islam. Bahkan akhir-akhir ini Alquran digital pun rasanya sudah tidak menjadi hal yang asing lagi bagi umat Islam Indonesia. Karena sudah banyak merek telepon genggam yang sudah menawarkan fasilitas semacam ini. Sehingga sudah tidak perlu lagi dipermasalahkan mengenai ukuran dan bobot fisik dari Alquran itu sendiri karena kini Alquran sudah dapat dibawa dengan mudah hanya dalam satu genggaman tangan dan dibuka dengan sentuhan jari.    
     Selain kemudahan, Alquran yang sekarang masih memiliki keaslian yang tetap terjaga seperti pada saat pertama kali diturunkan. Lebih jauh lagi, banyak para muslim tidak perlu lagi khawatir akan pembajakan Alquran karena sudah banyak para hafidz yang senantiasa menjadi salah satu perantara Allah SWT dalam menjaga keaslian Alquran. Dengan demikian, barbagai kemudahan dan jaminan keaslian yang ada, umat Islam seharusnya bisa mengoptimalkan keadaan ini dengan senantiasa membaca Alquran dan mengamalkannya.
       Semua kemudahan yang sekarang dirasakan tentunya tidak terlepas dari peran seorang manusia yang setia membawa risalah dari Allah SWT dan menyampaikannya kepada seluruh umat manusia, Rasulullah SAW. Seorang laki-laki pilihan Allah yang berakhlak paling mulia, ibadah yang paling sempurna, dan pemaaf yang paling baik diantara semua manusia di dunia ini. Bukanlah sesuatu yang mudah untuk menerima wahyu dan menyampaikannya hingga wahyu tersebut sampai kepada kita yang berbeda masa dengan beliau. Banyak hambatan dan ujian yang beliau hadapi dalam proses dakwah ini. Mulai dari penghinaan, pengucilan, sampai ancaman pembunuhan yang datang dari pamannya sendiri. Namun Rasulullah SAW tidak menyelesaikan semua masalah ini dengan amarah dan balas dendam. Justru pintu maaf yang amat lebar beliau sediakan untuk orang-orang yang telah mencelakainya.
    Sayangnya contoh yang telah beliau tunjukkan kepada kita selaku umatnya belum dapat kita ikuti dengan cukup baik. Hal tersebut berawal dari perubahan keadaan sosial yang kini sudah tidak lagi bernuansa ketimuran. Bahkan dalam acara reality show di beberapa stasiun televisi swasta menayangkan beberapa masalah yang selalu dihadapi oleh masyarakat dengan amarah. Begitu juga yang terjadi di masyarakat yang sebenarnya. Bangsa Indonesia ini sepertinya telah terwarnai oleh faham liberalisme yang menjadikan kita lebih mementingkan diri sendiri daripada orang lain. Selain itu, tidak kalah pula dengan budaya mengeluh yang ada di negara Indonesia ini. Yang senantiasa berkomentar tanpa mengambil tindakan yang pasti untuk memperbaiki suatu kerusakan. Sehingga tidaklah heran jika ada sebuah pepatah yang mengatakan, “Kemerdekaan itu diperjuangkan oleh orang-orang ikhlas, dimenangkan oleh orang-orang berani, namun dinikmati oleh para pengecut.”
    Bangsa yang sudah merdeka ini tidak seharusnya bercerai-berai dan gemar mengkritik tanpa memberikan solusi. Ada kalanya bila rakyat menginginkan perubahan mereka harus mempercayai pemimpinnya secara utuh. Begitu pula dengan para pemimpin yang tidak boleh diam saja menerima kepercayaan rakyatnya. Jangan hanya karena segelintir pejabat yang melakukan korupsi rakyat menyebut pemerintahan saat ini sangat korup. Masyarakat mengatakan bahwa hidup di zaman ini sangat sulit namun entah mengapa kendaraan bermotor terus saja bertambah dan pusat perbelanjaan pun semakin ramai. Tidak terkecuali dengan para pejabat dan politikus yang kini sedang berebut image ‘bersih’ di mata masyarakat dengan saling merendahkan satu sama lain. Entah virus apa yang telah menjangkiti orang-orang di negeri ini sehingga Negara Indonesia yang damai, adil, makmur, dan sejahtera sepertinya sangat tidak mungkin untuk dicapai.
    Ramadhan khususnya hari ke-17 kali ini yang bertepatan dengan Nuzulul Quran seyogyanya menjadi saat yang tepat untuk bercermin kepada akhlak Rasulullah SAW. Bagaimana beliau menerima wahyu itu sendiri lalu bersedih dalam kesunyian karena orang-orang disekitarnya tidak ada yang mau mendengar seruannya. Padahal hal yang beliau lakukan semata-mata untuk memperingatkan dan memberi kabar gembira bagi orang-orang yang mengikuti seruannya. Bahkan yang senantiasa ia tangisi bukanlah keselamatannya melainkan keselamatan umatnya yaitu kita. Sikap peduli dan simpati menjadikan beliau dapat merasakan dan memahami kesulitan dari para sahabat dan orang-orang disekitarnya. Ditambah lagi dengan sifat pemurah beliau yang senantiasa memaafkan dan tidak pernah merendahkan orang lain sehingga Rasulullah mendapat gelar orang paling berpengaruh diantara 100 orang paling berpengaruh di dunia. Lalu, apa lagi yang diragukan untuk mencontoh perbuatan Rasulullah setelah ada bukti yang begitu jelasnya?


    Semoga Ramadhan kali ini bisa menjadi awal dari perubahan yang baik bagi bangsa ini. Puasa yang dilakukan saat ini hendaknya dapat ditransformasikan menjadi kebiasaan menahan diri yang kuat ke dalam kehidupan sehari-hari di bulan selain Ramadhan. Karena manusia yang paling kuat adalah manusia yang dapat menahan amarahnya dan mengendalikan setiap perilakunya. Dengan pribadi yang dapat saling mendengar dan saling memahami tentunya kita dapat memulai segala sesuatunya dari awal dan menciptakan suatu situasi dan kondisi yang diidam-idamkan bersama.   









Rabu, 18 Agustus 2010

Potensi Angin Tanpa Batas di Pantai Selatan Garut

     Dalam Geografi dikenal dengan adanya konsep distribusi , yaitu konsep yang menjelaskan bahwa Geografi mempelajari fenomena geosfer (permukaan bumi) yang tersebar di seluruh permukaan bumi dan semua fenomena tersebut ternyata tidak ada yang identik sama. Begitu pula yang ada di Indonesia yang dimana seluruh fenomena alamnya memiliki ciri khas tersendiri. Tentunya ciri khas tersebut bisa mendatangkan manfaat jika pengelolaannya dilakukan dengan baik. Salah satu ciri khas dari fenomena-fenomena tersebut ada di daerah sekitar pantai selatan Garut, tepatnya di Pantai Sayang Heulang Kecamatan Pameungpeuk Kabupaten Garut.Padahal secara fisik bentukan dari pantai ini tidak berbeda dengan bentukan pantai pada umumnya. Hanya saja karena kondisi dan letak geografisnya yang unik menjadikan pantai ini bisa menjadi salah satu sumber penghidupan bagi warga di sekitarnya.
    Secara asatronomis Pantai Sayang Heulang terletak di sekitar  07039’49,9”LS dan 107042’14,6”BB. Sedangkan secara geografis daerah ini terletak di bagian selatan Pulau Jawa yang langsung berbatasan dengan Samudera Hindia. Daerah Pantai Sayang Heulang memiliki bentuk pantai yang landai dan ditumbuhi oleh berbagai vegetasi  sekitar 250 meter dari garis pantai. Tak jauh dari garis pantai tersebut, sekitar 1 km terdapat sebuah fenomena langka yang terjadi di daerah tropis seperti Indonesia, yaitu sand dune.
Sand dune arau gumuk pasir merupakan gundukan bukit atau igir dari pasir yang terhembus angin. Dari fenomena inilah dapat dilihat bahwa Pantai Sayang Heulang memiliki karakteristik angin yang bertiup secara konstan dan dengan kelajuan yang cukup tinggi pula. Karena gumuk pasir setinggi 46 mdpl ini tak akan terbentuk jika “perantara pembawa” pasirnya tidak menunjang.  Karena proses pembentukkan gumuk pasir ini sama sekali tidak melibatkan fluida jenis lain kecuali angin. Angin yang bertiup dari arah laut menuju daratan membawa material-material pasir hasil sedimentasi baik dari laut maupun hulu sungai. Sehingga material-material pasir tersebut berkumpul di suatu tempat yang cukup jauh dari pengaruh pasang-surut air laut. Lebih jauh lagi, proses ini terus berlanjut hingga ribuan hingga puluhan ribu lamanya sehingga menjadi gumuk pasir yang sekarang. 
     Selain itu, daerah Pantai Sayang Heulang pun tercatat memiliki kecepatan angin dari perairan ke daratan sekitar 4,5 m/s atau sama dengan 16,2 km/jam yang diukur di garis pantai. Angin yang berderajat kecepatan 3 skala beaufort ini dapat disetarakan dengan angin yang dapat menggoyangkan dahan-dahan dan ranting-ranting kecil secara terus menerus. Ditambah lagi, dengan adanya gumuk pasir yang telah disebutkan menjadikan angin ini mendaki ke puncak dan bergabung dengan aliran udara diatasnya. Sehingga aliran udara yang dihasilkan bersifat streamline atau berbentuk garis arus yang searah dan beraturan. Adapun angin yang diatasnya itu adalah angin pasat. Angin pasat adalah aliran udara yang bergerak dari daerah berlintang sedang (300LS dan 300 LU) menuju daerah ekuator  (00)karena faktor panas yang diakibatkan oleh radiasi matahari. Angin ini bergerak dengan cakupan daerah yang luas dan bergerak pada ketinggian yang cukup tinggi pada bagian troposfer. Belum lagi ditambah dengan angin muson dan angin lokal yang juga bergabung pada bagian puncak gumuk pasir. Pada posisi ini tentunya angin yang bertiup akan memiliki kelajuan lebih dari 4,5 m/s. Disamping itu, setelah dilakukan survey ke tempat tersebut, ternyata angin yang berhembus pun hampir tidak berhenti selama kurang lebih 60 menit pada waktu sore hari. Ini menandakan bahwa berbagai macam aliran udara banyak yang terkumpul di daerah ini dan berhembus saling bergantian. Hasilnya angin yang sewaktu-waktu dapat berhenti dapat tertutupi oleh angin lain yang masih bertiup. Sehingga tidak diragukan lagi bahwa daerah potensial yang nampaknya tertinggal ini bisa menjadi sumber energi listrik baru yang lebih bersih dan ekonomis atau potensi lainnya yang memanfaatkan proses angin. 




    Fenomena sand dune yang unik ini menjadi salah satu penunjang dalam proses pergerakan aliran udara di daerah Pantai Sayang Heulang, Kabupaten Garut
    
     Sebenarnya tidak hanya di Pantai Sayang Heulang saja, tapi fenomena seperti ini diperkirakan ada di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa yang tentunya memiliki kondisi  geografis yang mirip dengan Pantai Sayang Heulang. Belum lagi dengan pulau-pulau lain yang memiliki potensi angin  yang melebihi bayangan kita. Perlu diketahui bahwa Indonesia merupakan negara dengan garis pantai yang terpanjang, yaitu sekitar 80.791,42km. Oleh karena itu, sangat disayangkan jika tidak ada penelitian lebih lanjut tentang faktor pembentuk angin, berikut kelajuan dan aliran udaranya. Karena tidak mungkin pemerintah harus memasang Pembangkit Listrik Tenaga Angin (PLTA) di sepanjang garis pantai Indonesia. Para ilmuwan dituntut untuk dapat memberikan rekomendasi di mana tempat-tempat yang paling memberikan keuntungan untuk dijadikan PLTA.
     Namun setiap usaha yang direncakan tentunya tidak pernah luput dari segala macam kendala. Angin yang bertiup dari perairan laut menuju daratan dapat mengikis logam yang menjadi salah satu bahan bangunan kincir angin karena ia bersifat korosif. Harus dilakukan peneltian bagaimana cara mengantisipasi kendala ini, baik dengan melakukan pelapisan pada setiap bagian bangunan kincir atau mengganti beberapa bagian yang rawan dengan plastik. Belum lagi dengan masalah anggaran negara yang belum tentu ada untuk proyek sebesar ini.
     Tapi bagaimana pun juga, ternyata pemerintah pun sudah melirik potensi ini dengan Kebijakan Energi Nasional yaitu dengan menargetkan 250 megawatt (MW) listrik yang akan dihasilkan dari energi angin. Itu artinya, jika satu rumah memiliki konsumsi listrik sebesar 450 W maka listrik sebesar ini dapat mengalirkan listrik ke sebanyak  kurang lebih 555.000 rumah. Dengan demikian, kita tinggal menunggu aksi dari pemerintah untuk mencapai Indonesia yang lebih baik dengan energi yang memadai untuk rakyatnya, semoga.

Selasa, 20 Juli 2010

“Harga Jual” yang Semakin Turun

     Reformasi yang seharusnya menjadi titik tolak dari perubahan yang signifikan bagi organisasi mahasiswa kelihatannya kini hanya menjadi angan-angan belaka. Pasalnya keberadaan organisasi mahasiswa nampaknya menjadi bidang yang kurang diminati oleh mahasiswa saat ini. Bahkan ormawa (organisasi mahasiswa) yang sekarang cenderung dijauhi karena kesannya yang kurang membantu dalam bidang akademis. Selain itu, pergerakan ormawa yang sekarang bisa dikatakan  stagnan atau tidak berkembang karena pada umumnya mereka hanya melakukan kegiatan rutin dengan niat “gugur kewajiban”,sehingga tidak heran jika program kerja yang telah dilakukan tidak memberikan hasil yang diharapkan.

    Sekelumit masalah tadi seharusnya menjadi bahan pemikiran kita selaku mahasiswa yang masih peduli akan peran pemuda dalam membangun negeri . Jika hal ini terus dibiarkan maka tidak akan mustahil jika suatu saat gerakan pemuda yang dimulai sejak berdirinya organisasi Budi Utomo hingga sekarang akan terhenti dan diambil alih 100% oleh pemerintah yang terkadang tidak memihak pada mahasiswa.  Dari sinilah pentingnya untuk menaikkan “harga jual” agar keberadaan ormawa tidak terancam punah.

    Ada beberapa hal yang harus ditingkatkan dalam peningkatan kualitas ormawa. Sebenarnya ini merupakan teori lama, namun ada baiknya jika permasalahan ormawa diselidiki dari sisi ini. Adalah 3M yaitu man, money,dan  machine yang menjadi tiga  unsur penyusun dari suatu organisasi.  Dimana man  adalah manusia yang menggerakkan ormawa, money adalah dana untuk menghidupi ormawa, dan machine adalah system yang menjadikan setiap elemen dalam ormawa menjadi sinergis.

    Dengan mengoptimalkan tiga unsur ini secara tepat efektif maka bisa diperkirakan bahwa organisasi mahasiswa akan memiliki “harga jual” yang semakin tinggi.

Merancang Peradaban Islam Akhir Zaman

     Di era globalisasi yang mutakhir ini, banyak orang berlomba untuk menjadi yang terbaik dengan tujuan untuk merubah dunia menjadi yang diinginkannya yang disebut dengan peradaban baru. Sekilas, mungkin hal ini baik untuk dilakukan mengingat sudah sifat dasar manusia untuk berkompetisi dan berkreasi. Namun jika diperhatikan lagi, maka kita akan mendapatkan suatu kompetisi yang memperebutkan kekuasaan dengan menggungakan amunisi yang disebut peradaban. Memang sudah banyak orang sadar akan hal ini, namun tidak sedikit orang yang sadar membiarkan dirinya terbawa oleh pemikiran orang lain. Jika hal ini terus berlanjut terjadi pada diri kita, maka tidak mustahil bagi mereka untuk membuat kita menerima paham mereka sekalipun paham mereka bertentangan dengan paham kita. Jadi apakah kita, muslim Indonesia, akan membiarkan hal ini terus berlanjut? Apakah kita akan terbawa peradaban asing atau justru membangun peradaban sendiri?
read more...

My Firtst Post in High School.

Komunikasi di Mataku.
     Berbicara masalah produk telekomunikasi, memang tidak akan pernah habis apalagi jika kita lihat dari segi persepsi remaja. Pada tulisan ini, penulis hanya akan mengutarakan persepsinya sendiri akan produk-produk telekomunikasi yang ada di Indonesia.
read more...

New Post!!! Geografi vs Radikalisme+Terorisme

“Geography then deals with the real world, the world of which one learns best through one’s boots soles or bare feet, or by means of trains, vessel, motor cars, or aero planes and only make shift by description, pictorial or otherwise, but it do not end with a study of the externals thus presented. It deals with the reason why the material world – regarded as a whole and made up related part – has come to be what it is. This involves relations natural sciences. It deals with the way in which this material world has influenced man, and in turn has been modified, altered and adapted by human action.” (Council of Geographic Association, 1919) 
read more...

Jumat, 25 Juni 2010

Pantai Ancol : Antara Perikanan dan Pariwisata

     Indonesia merupakan negara 17.000 pulau dengan luas daratan yang lebih kecil daripada luas lautan tentunya menyimpan potensi perikanan yang cukup besar. Terlebih lagi pada bagian lautan yang berbatasan dengan daratan memiliki potensi perikanan yang lebih menjanjikan. Sekalipun daerah ini hanya sekitar 8% dari luas seluruh lautan, tetapi hampir seluruh produksi ikan di seluruh dunia berasal dari daerah dangkal (continental shelf). Daerah dangkal itu pun terdiri dari daerah upwelling dimana seluruh nutrisi dari dasar laut terangkat ke permukaan sehingga daerah uwelling menyumbang sekitar 25% produksi ikan yang dikonsumsi manusia. Selain itu, kelebihan dari daerah dangkal adalah cahaya matahari masih dapat diterima hingga ke dasar, sehingga keanekaragaman hayati cenderung beranekaragam.

     Diperkirakan bahwa 67% protein hewani yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia berasal dari ikan (Hutabarat, 2006 : 13). Ini berarti setiap orang mengonsumsi sekitar 11,7 kg pertahun. Dari sinilah arti penting keberadaan pantai dan pesisir serta laut dangkal menjadi penting bagi rakyat Indonesia. Manajemen sumber daya perlu dilakukan termasuk konservasi daerah ini untuk mencegah kerusakan ekosistem. Meskipun sumber daya perikanan merupakan sumber daya yang dapat diperbaharui, namun usaha untuk menjaganya tetap harus dilakukan. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga persediaan ikan habis karena over-fishing. Akibatnya, para nelayan hanya mendapat ikan-ikan yang berukuran kecil dan memerlukan usaha lebih untuk mendapat okan yang berukuran lebih besar.

      Pada daerah pantai Ancol pun memliki karakteristik demikian. Sekalipun daerah ini merupakan kawasan pariwisata, tetapi bukan berarti potensi perikanannya bisa diabaikan. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan di daerah pantai Ancol sebagai kawasan wisata antara lain pencemaran. Pencemaran yang terjadi di daerah ini tidak hanya dilakukan oleh para pengunjung yang membuang sampah sembarangan.

Gambar 1
Sampah yang mencemari Pantai Ancol berasal dari para wisatawan

     Tetapi juga oleh pabrik-pabrik di sekitar pantai yang menurut salah satu narasumber membuang hasil sisa produksinya ke laut. Semula, mungkin para pengelola pabrik mengira bahwa limbah yang mereka buang tidak akan merusak ekosistem alam. Namun, karena semakin banyaknya limbah yang bertumpuk maka ekosistem laut akhirnya terganggu juga. Alhasil keadaan Ancol yang sekarang tertata dengan baik memiliki air laut yang berwarna hitam. Air hitam tersebut bisa jadi merupakan akibat dari berbagai macam bahan pencemar seperti minyak, logam berat, dan lain-lain.

 Gambar 2
Ikan sembilang dan ikan kerapu yang ada di Pantai Ancol
 
 
      Pencemaran minyak dapat mempunyai pengaruh yang luas terhadap hewan dan tumbuh-tumbuhan yang hidup di suatu daerah. Minyak yang mengapung terutama sekali amat berbahaya bagi kehidupan burung laut yang suka berenag di atas permukaan air. Minyak ini akan mengotori bulu-bulu mereka sehingga mereka akan sulit bergerak. Lalu mereka akan membersihkan diri mereka dengan menjilati tubuhnya. Akhirnya mereka pun akan mati karena meminum minyak dalam jumlah yang tidak sedikit.

 
Gambar 3
Warna air laut di Pantai Ancol yang hitam akibat pencemaran dari limbah industri

     Tidak jauh berbeda dari minyak, logam berat merupakan salah satu bahan pencemar yang cukup berbahaya. Saat logam berat mulai mencemari air laut, maka secara otomatis ikan dan organisme lainnya termasuki oleh logam berat. Lama keamaan logam berat ini akan bertumpuk di dalam tubuh ikan. Selanjutnya ikan-ikan tersebut akan dikonsumsi oleh manusia. Walaupun kandungan logam berat dalam tubuh ikan sangat sedikit, resiko terjadinya keracunan tetap tinggi. Dalam jumlah yang tinggi kandungan logam berat dalam tubuh dapat menyebabkan kematian.
     Hasil dari identifikasi sumberdaya alam Pantai Ancol adalah Pantai Ancol memiliki luas lahan 20,9 ha, dan sudah memiliki instalasi pengolahan air limbah di Pantai Timur. Daya dukung kawasan wisata Pantai Ancol dengan konsep pengembangan wisata adalah 251.999 pengunjung dan 125 kapal, sedangkan daya dukung kawasan wisata Pantai Ancol dengan konsep pengembangan ekowisata adalah 108.521 pengunjung dan 50 kapal. Nilai indeks kesesuaian lahan untuk wisata Pantai Ancol masuk kedalam kategori sangat sesuai (S1), yaitu tidak ada faktor pembatas yang cukup serius untuk menjadikan kawasan wisata pantai. Nilai
indeks kesesuaian lahan Pantai Marina Ancol adalah sesuai (S2) untuk kategori pelabuhan kapal, artinya Pantai Marina Ancol masih bisa dipergunakan untuk pelabuhan kapal.
     Itulah sebagian hal-hal yang harus diwaspadai agar pantai Ancol tidal lebih tercemar dari keadaan sekarang. Karena sekalipun potensi perikanan di pantai Ancol tidak terlalu besar bukan berarti tidak perlu dijaga. Bagaimana pun juga sudah menjadi tugas manusia untuk menjaga dan melestarikan kehidupan alam guna mewariskannya untuk para penerus yang akan datang.



 

Selasa, 15 Juni 2010

Informasi Semester Padat Jurusan Pendidikan Geografi 2009/2010

Agenda :
  1. Pengambilan FRS tanggal 24 Juni 2010 - 7 Juli 2010 di BAAK (diambil oleh individu).
  2. Pembayaran biaya SP tanggal 8 Juni 2010 - 14 Juli 2010 sebesar Rp 35.000,- / sks. Uang ditransfer ke Rekening 0022510325 a.n. UPI PT BHMN di setiap cabang BNI di mana pun. (Simpan tanda pembayaran sebagai bukti). 
  3. Untuk pengumpulan FRS dan bukti pembayaran silahkan cari info di jurusan.
  4. Perkuliahan dimulai tanggal 15 Juli 2010 - 20 Agustus 2010 
Mata kuliah yang ditawarkan :

1. Geografi Ekonomi (GG 410)
  • Prof. Dr. Hj. Enok Maryani, MS (0369)
  •  Bagja Waluya, S.Pd (2163)
2. Pengantar Geografi Regional (GG 400)
  • Dr. Wanjat Kastolani, M.Pd (0927)
  • Dr. Asep Mulyadi, M.Pd (1393)
3. Antropologi
  • Prof. Dr. Gurniwan KP, M.Si (0971)
  • Drs. Wahyu Eridiana, M.Si (0644)
4. Geografi Penduduk
  • Drs. Mamat ruhimat, M.Pd (0658)
  •  Drs. Wahyu Eridiana, M.Si (0644)
     Silahkan konfirmasikan terlebih dahulu info di atas ke Jurusan Pendidikan Geografi. Bila ada yang ingin ditanyakan hubungi 085721236846. Insya Allah kalau telepon saya angkat kalau sms saya balas (kalau ada pulsa).

Menebak “Jalan Pikiran” SNMPTN

     Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau yang dikenal SNMPTN merupakan salah satu hajat besar dunia pendidikan Indonesia dalam rangka membangun kualitas anak bangsa dengan cara menyeleksi para calon mahasiswa yang ingin masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Sekilas, SNMPTN ini dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai suatu awal dari suatu proses menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Akibatnya, tidak jarang karena pemahaman ini banyak siswa SMA atau sederajat yang duduk pada tingkat akhir meningkatkan frekuensi belajarnya saat mendekati pelaksanaan ujian ini. Padahal hakikatnya, SNMPTN adalah suatu alat evaluasi hasil belajar yang dilakukan selama tiga tahun di bangku SMA atau sederajat untuk menguji kelayakan apakah peserta ujian akan mampu menempuh pendidikan selama di PTN yang dituju dengan baik. Singkatnya, SNMPTN akan sulit dilalui oleh siswa yang semangat belajarnya hanya sesaat! Namun bukan berarti pernyataan tadi mutlak adanya. Karena bagaimana pun juga SNMPTN menggunakan alat evaluasi berupa soal pilihan ganda yang tentu saja tidak akan terlepas dari faktor keberuntungan. Artinya, bisa saja seorang siswa yang tidak terlalu pandai bisa lolos dalam ujian SNMPTN.
   
     Pada dasarnya ujian SNMPTN merupakan salah satu jenis evaluasi objektif, yaitu tes yang jawabannya dapat diberi skor nilai secara lugas (seadanya) menurut pedoman yang ditentukan sebelumanya (Syah, 2008 : 146). Salah satu bentuk dari tes ini tentunya adalah soal pilihan ganda yang mendominasi lembar ujian SNMPTN. Adapun tipe soal lainnya adalah soal benar-salah yang telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menjadi soal sebab-akibat dan soal mencocokan yang dikemas dalam tampilan pilihan ganda. Sehingga secara sekilas orang awam akan melihat bahwa soal SNMPTN adalah 100% soal pilihan ganda yang sebenarnya bukan. Ditambah lagi dengan sistem penilaian minus satu untuk jawaban salah membuat ujian ini lebih sulit untuk dilalui dengan nilai yang besar. Walaupun demikian, bukan berarti peserta yang kurang pandai mutlak tidak akan lolos dalam ujian SNMPTN. Karena disamping kesulitannya, ujian SNMPTN pun memiliki keringanan dalam masalah penilaian yang tidak mengenal passing grade dan sekali lagi, harus dilihat bahwa keberuntungan masih bisa menjadi faktor penentu kelulusan.

Konsisten   
    Seperti yang telah diketahui bersama bahwa ujianh SNMPTN dibagi ke dalam dua jenis tes tertulis, yaitu Tes Potensi Akademik (TPA) dan Tes Bidang Studi Prediktif (TBSP) yang terdiri dari mata pelajaran yang diujikan saat UN. Tentunya semua jenis tes tersebut memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi bagi siswa SMA pada umumnya. Sehingga sangat sulit bagi peserta untuk mendapatkan nilai yang tinggi untuk semua jenis tes. Tapi inilah yang diinginkan oleh PTN panitia penyelenggara ujian. Karena dengan begitu, potensi peserta ujian akan semakin terlihat pada satu mata pelajaran, entah itu fisika, biologi, geografi, dan lain sebagainya. Selain itu, sangat kecil sekali kemungkinannya mendapatkan peserta yang berbakat dan menonjol di semua mata pelajaran. Bermula dari anggapan inilah seorang peserta ujian harus konsisten dalam pilihan jurusan dan pengerjaan soal. Konsisten dalam hal ini adalah mengerjakan soal dengan maksimal pada mata pelajaran tertentu yang serumpun dengan jurusan yang telah dipilih di suatu PTN. Misalnya jika seorang peserta memilih jurusan Fisika maka ia harus menonjolkan mata pelajaran Fisikanya. Begitu juga dengan TPA, ia harus menonjolkan kemampuannya pada tes kemampuan angka dan penalaran ruang. Mengapa harus demikian? Bukankah bobot untuk setiap mata pelajaran adalah sama? Memang benar bobot untuk setiap mata pelajaran adalah sama. Namun tentunya setiap PTN ingin mendapatkan mahasiswa baru yang berkualitas dan berkompeten di bidangnya. Selain itu, dengan adanya TPA semakin memperjelas tingkat kecocokan bakat dan potensi peserta terhadap jurusan yang dipilihnya. Pasalnya setiap bagian tes pada TPA memiliki karakter yang mewakili kemampuan yang dibutuhkan untuk setiap jurusan. Sehingga bisa diperkirakan bahwa penilaian khusus akan diberlakukan pada setiap bagian dari TPA ini.

Penilaian
     Selain hal yang disebutkan di atas, masih ada satu hal lagi yang harus dicermati dalam seleksi ini, yaitu pengolahan nilai. Hingga saat ini panitia penyelenggara masih tertutup akan proses pengolahan nilai termasuk hasilnya kepada para peserta. Bisa jadi sistem penilaian yang digunakan adalah sistem penilaian yang tidak dikenal masyarakat pada umumnya. Dengan kata lain, kemungkinan teknik yang digunakan adalah teknik statistik yang cukup rumit yang akan mengarahkan kepada tingkat kecocokan potensi tiap peserta dengan pilihan jurusannya. Selain itu, telah disebutkan bahwa SNMPTN tidak mengenal passing grade yang menjadikan seribu satu kemungkinan untuk diterima di PTN. Seorang peserta yang mendapatkan nilai 10% dari nilai total bisa saja diterima di PTN terkemuka jika daya tampung PTN tersebut belum terpenuhi. Artinya, jika nilai yang didapatkan kecil, ia tetap berkemungkinan diterma asalkan peserta yang lain mendapat nilai yang lebih kecil. Mungkin inilah alasan mengapa panitia penyelenggara SNMPTN memilih untuk merahasiakan proses pengolahan nilai beserta hasilnya. Karena disamping menjaga ketertiban, panitia pun mencari peserta yang berkompeten di bidangnya. Maka bisa diperhitungkan jika ada dua peserta yang nilai totalnya sama denga pilihan yang sama, namun salah satunya memiliki kecocokan yang cukup tinggi maka peserta tersebut akan lebih dipilih untuk diloloskan.
    Intinya, dalam pengerjaan soal-soal SNMPTN dibutuhkan suatu keyakinan dari seorang peserta bahwa bakatnya cocok dengan jurusan yang telah dipilihnya. Tanpa mengesampingkan mata pelajaran yang lain, ia harus maksimalkan mata pelajaran yang satu rumpun dengan tujuannya. Namun pada akhirnya semua perkiraan ini tentunya tidak akan bekerja tanpa disertai dengan usaha yang keras dan izin dari Yang Maha Kuasa. Mudah-mudah peserta SNMPTN yang diterima pada tahun ini merupakan generasi penerus bangsa yang benar-benar berkompeten di bidangnya dan sanggup menghadapi tantangan zaman dengan bernafaskan nilai-nilai Pancasila.

Komparasi Nilai antara UN dan SNMPTN

     Sebenarnya banyak sekali pelajaran-pelajaran yang bisa kita ambil jika memperhatikan nilai-nilai antara dua hajat besar dunia pendidikan, yaitu Ujian Nasional (UN) dan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Dua kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahun khusus bagi siswa SMA yang akan lulus dan siswa SMA yang sudah lulus. Namun tidak bisa dipungkiri lagi, sekalipun keduanya memiliki tujuan yang searah dalam peningkatan kualitas pendidikan, keduanya memilki perbedaan yang sangat jauh jika dilihat dari respon yang ditunjukkan oleh masyarakat. Seperti yang telah diketahui pada umumnya, Ujian Nasional atau UN sangat ditentang mayoritas siswa SMA sedangkan SNMPTN mendapatkan tanggapan yang justru sebaliknya, yaitu dikejar dan diperebutkan oleh para siswa SMA. Padahal dilihat dari tingkat kesulitan soal, SNMPTN berada jauh di atas UN. Ditambah lagi peluang untuk lulus SNMPTN jauh lebih kecil daripada UN. Karena UN dapat meloloskan 100% pesertanya sedangkan SNMPTN tidak. Jadi apakah ada yang salah dengan SNMPTN? Atau apakah UN memang seharusnya ditiadakan?

Resiko

    Setiap perbuatan yang dilakukan tentunya mengandung berbagai resiko yang harus diterima. Inilah sebenarnya akar utama dari permasalahan ini. Resiko yang harus diterima oleh setiap siswa yang mengikuti UN sangat besar dan tidak sebanding dengan usaha yang dilakukan. Bisa dibayangkan, usaha seorang siswa untuk mendapat peringkat pertama selama tiga tahun berturut-turut setiap semesternya menjadi tidak berarti sama sekali karena tidak lulus salah satu mata pelajaran dalam UN. Tentu saja siswa tersebut akan kecewa dan putus asa atau bahkan bersikap destruktif atas ekspresi dari kekecewaannya itu. Di sisi lain, sesosok makhluk yang bernama SNMPTN datang menjelma sebagai seorang “dewi keberuntungan” bagi para siswa SMA. Pasalnya, hanya dengan modal Rp 175.000,- seorang peserta SNMPTN mendapat kesempatan untuk bisa duduk di bangku kuliah PTN impiannya. Jika gagal, peserta tersebut tidak akan terlalu rugi, disamping rasa malu yang tidak terlalu besar, biaya yang telah dikeluarkan pun jauh lebih kecil dibanding mereka yang mengikuti seleksi jalur khusus.

    Dari penjelasan yang telah diuraikan, semakin jelas bahwa kedua jenis ujian ini memiliki karakter yang sangat berbeda. Jika dianalogikan, UN adalah seorang guru yang lebih senang menghukum muridnya untuk belajar lebih keras. Sedangkan SNMPTN diibaratkan sebagai seorang guru yang lebih cenderung untuk memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya untuk memotivasi muridnya belajar. Sehingga wajar saja tanggapan para siswa sangat buruk terhadap UN dan baik terhadap SNMPTN bahkan menjadikannya orientasi dalam belajar. 

    Seharusnya pemerintah khususnya  Kementerian Pendidikan Nasional lebih peka terhadap permasalahan ini. Tidaklah salah mengambil kebijakan untuk menetapkan adanya ujian ulang bagi yang belum lulus. Namun alangkah lebih baik lagi jika prestasi siswa selama 3 tahun kebelakang diperhitungkan juga dalam kelulusan. Agar keringat yang telah mereka peras tidak hanya menjadi kenangan manis belaka. Setidaknya rancanglah sebuah sistem penilaian dimana nilai rapor bisa berpengaruh terhadap nilai ijazah. Sehingga para siswa akan belajar dengan sungguh-sungguh sejak pertama masuk SMA.

Mental Kompetitor

    Selain resiko, masih ada akar permasalahan lain yang menjadi salah satu faktor utama, yaitu kesiapan mental. Sebaik apa pun sistem yang dibuat tak akan pernah baik jika objek yang dikenainya belum siap secara fisik maupun mental. Pada hakikatnya, SNMPTN dan UN memiliki sistem yang sama-sama baik dan seimbang. UN dengan resikonya yang tinggi memiliki kualifikasi yang rendah dan SNMPTN dengan “hadiah” yang menggiurkan dengan kualifikasi yang lebih tinggi. Hanya saja perlu diketahui, bahwa siswa kita belum siap untuk mengambil resiko yang begitu besar. Maka dari itu, proses kegiatan belajar mengajar (PBM) di kelas tidak hanya diarahkan kepada tujuan akademis, tapi juga diarahakan kepada tujuan psikis agar siswa menjadi pribadi yang tangguh dan berani mengambil resiko. Sehingga para siswa menganggap UN seperti menganggap SNMPTN, bukan sebagai kewajiban tapi sebagai pilihan yang harus dijalani sepenuh hati. Pada posisi inilah kehadiran seorang guru profesional dibutuhkan. Mengutip perkataan M.Sobry Sutikno dalam bukunya “Belajar dan Pembelajaran” dikatakan bahwa,” Motivasi merupakan kekuatan dahsyat yang dapat menuntun Anda menggapai sukses. Orang yang tidak memilki motivasi belajar dalam dirinya, maka hadirnya guru profesional (sebagai motivator dari luar) sangat diperlukan.“

    Oleh karena itu, kualifikasi guru sebagai pendidik sangat menentukan. Sekali lagi, ini adalah tugas pemerintah sebagai pemegang kewenangan dalam menyeleksi guru yang berkualitas. Pemerintah harus bisa membedakan antara guru yang hanya sekedar “7P” (Pergi Pagi Pulang Petang Penghasilan Pas-Pasan) dan guru yang serius menghayati profesinya sebagai ujung tombak pendidikan nasional. Karena guru bertanggung jawab melaksanakan kegiatan belajar yang baik. Keberhasilan ini bergantung pada upaya guru membangkitkan motivasi belajar siswanya. Dengan begitu, diharapkan tak aka nada lagi sikap “pilih kasih” siswa terhadap UN dan SNMPTN.

Perbaikan

    Ketimpangan respon terhadap UN dan SNMPTN seyogyanya menjadi bahan pembelajaran kita bersama. Ini bukan tentang pemerintah saja, tapi juga tentang orang tua, siswa, guru, dan setiap elemen pendidikan nasional untuk bersinergi membangun pendidikan nasional dari hal yang kecil. Karena langkah pertama mencapai keberhasilan adalah melakukan suatu pekerjaan kecil dengan sebaik-baiknya dengan cara yang benar, hingga keberhasilan dapat tercapai. Setelah itu lakukanlah pada hal-hal yang besar. Kesimpulannya, tidaklah sulit membuat seorang siswa untuk lulus UN dan SNMPTN, namun yang sulit adalah bagaimana membuat siswa tersebut sadar akan kebutuhan belajar dan menciptakan pribadi yang berani mengambil resiko dan resistan terhadap berbagai tingkatan kegagalan.

Rabu, 02 Juni 2010

Soal-soal kuis PPD

Bwt mahasiswa Geografi yang mw download soal kuis PPD silahkan klik link-link di bawah ini.
Mohon maaf apabila ada ketidaknyamanan atas penggunaan jasa kami. Silahkan laporkan melalui tag 'comment' dan insya Allah akan segera saya perbaiki.


Soal PPD Kelompok 2

Soal PPD Kelompok 3

Soal PPD Kelompok 4

Soal PPD Kelompok 6

Soal PPD Kelompok 7

Soal PPD Kelompok 9

Soal PPD Kelompok 12




Jumat, 21 Mei 2010

Menghindari Longsor dengan French Drain

     Seperti namanya, Bandung memiliki bentuk permukaan yang menyerupai cekungan. Sehingga jika kita perhatikan dengan saksama seakan-akan gunung-gunung di sekitar kota ini “ngabandungan” ke arah kita yang berada di tengah-tengah kota. Tentunya dari bentuk permukaan yang unik ini mendatangkan berbagai konsekuensi yang salah satunya adalah rentan terjadinya longsor. Karena Bandung adalah tempat yang bermorfologi berbukit dan bergunung, maka secara otomatis kemiringan dari bukit dan gunung tersebut akan menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya longsor seperti yang telah terjadi di Bandung bagian selatan beberapa waktu yang lalu.

     Longsor, merupakan salah satu bentuk dari aktivitas permukaan bumi yang disebut perpindahan massa atau mass wasting. Suatu perpindahan massa tentunya pastinya dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain gravitasi, air, vegetasi, dan gempa bumi. Gravitasi merupakan faktor utama dalam proses perpindahan massa. Karenanya semua materi yang ada di bumi ini selalu bergerak secara alami ke arah pusat bumi. Sedangkan air dapat memicu suatu perpindahan massa jika kandungan air dalam tanah di suatu lereng cukup tinggi yang mengakibatkan tanah menjadi labil atau tidak seimbang. Tidak berbeda dengan vegetasi, semakin banyak vegetasi maka suatu lereng atau bukit akan semakin resistan terhadap longsor.
Terakhir adalah gempa bumi. Gempa bumi yang dimaksud adalah segala jenis goncangan yang diakibatkan baik oleh aktivitas tektonik, vulkanik, atau bahkan oleh aktivitas manusia seperti gempa bumi yang diakibatkan oleh ledakan bom.




Bahkan pada bukit yang bervegetasi pun kemungkinan longsor dapat terjadi, hal tersebut dapat disebabkan oleh kandungan air yang terdapat dapat tanah terlalu tinggi sehingga tidakmemungkinkan untuk vegetasi menyerap semuanya.

French Drain

    French Drain adalah suatu saluran air bawah tanah yang dikelilingi oleh kerikil dan berfungsi untuk mengalirkan air dari permukaan tanah ke sisi lain melalui celah-celah tanah. Material yang digunakan untuk saluran ini cukup unik, yaitu pipa berpori atau pipa yang telah diberi lubang untuk tempat masuk air dari tanah ke pipa. Cara kerja dari French Drain ini cukup sederhana, yaitu bekerja berdasarkan faktor air yang telah dijelaskan. Dengan mengalirkan air yang telah diserap oleh tanah di suatu lereng dan mengalirkannya keluar lapisan tanah dengan maksud untuk mengurangi kadar air dalam tanah. Dengan demikian peluang untuk terjadinya longsor dapat diminimalisir.

     Namun tidak sesederhana cara kerjanya, pemasangan French Drain justru cukup rumit dan membutuhkan banyak perhitungan yang akurat. Misalnya, pipa berpori yang digunakan harus memiliki diameter lubang yang tepat. Jika diameternya terlalu kecil, maka air akan sulit untuk masuk ke dalam pipa. Sebaliknya, jika diameternya terlalu besar maka akan terjadi clogging atau penyumbatan pada pipa karena butir tanah yang masuk ke dalam pipa. Jika terus dibiarkan maka akan mematiakn fungsi dari French Drain itu sendiri. Selain itu, susunan tanah dan batuan yang mengelilingi pipa pun harus diperhatikan. Pipa harus dikelilingi oleh batuan yang berukuran cukup besar seperti kerikil dan juga tidak boleh terlalu dekat dengan tanah yang mudah terlarut dalam air. Namun ukuran lubang atau pori yang tepat dan susunan batu dan tanah yang sesuai belum dapat mengantisipasi sepenuhnya masalah penyumbatan. Akhirnya para ilmuwan pun telah menemukan solusi atas permasalahan tersebut, yaitu suatu serat yang disebut geotekstil. Geotekstil adalah suatu serat kain yang berfungsi untuk menyaring atau memisahkan suatu butir tanah halus seperti lumpur dari pelarutnya. Serat kain ini biasanya terbuat dari propilena atau polyester. Sistem French Drain yang modern telah tersusun oleh pipa berpori dengan ukuran lubang sekitar 2 inchi atau 5,08 cm, batu kerikil, dan geotekstil. Maksud dari geoteksil adalah mencegah masuknya butir halus tanah seperti lumpur ke daerah penyerapan air sekitar pipa.

Perawatan

    Sebuah sistem French Drain yang modern memilki daya tahan hingga 10 tahun tanpa perawatan khusus. Sekalipun sudah dirancang sedemikian rupa untuk mencegah penyumbatan, sistem ini masih dibatasi oleh masalah sedimentasi atau pengendapan. Masalahnya, setiap air yang masuk ke dalam pipa tentunya membawa muatan-muatan yang akan mengendap jika dibiarkan terus berada di dalam pipa. Sehingga sangat dianjurkan sekali dalam pemasangan French Drain juga disertakan sebuah pompa air untuk membersihkan saluran pipa dan menambah usia pakai dari sistem ini. Jika suatu saat pipa sulit untuk mengalirkan air maka pompa dapat membersihkannya dengan mengalirkan air melewatinya. Dengan demikian, French Drain bias bekerja optimal seperti baru kembali.  

Senin, 17 Mei 2010

Try to Reach Something Great



One day, I will be a coolest man as him!!
Hehe..